AGENDA KEGIATAN

  MARET 2021  
M S S R K J S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031
- Klik pada tanggal yang terdapat event

STATISTIK PENGUNJUNG

Hari ini 30
Minggu ini 481
Bulan ini 481
Total Pengunjung 142403
Pengunjung Online 4

BANTUAN ONLINE

Akhirul Wani, S.Si.
Dwi Vera Wahyuni, S.Pd
Malika Hajar N.S., S.Pd.

OFFICIAL TWITTER

Muntok - Kamis, 16 Juli 2020

Pendidikan yang Menciptakan Anak Cerdas Kreatif - Dwi Vera Wahyuni, S.Pd

Dibaca : 1 Pengunjung

Pendidikan formal di Sekolah adalah salah satu sarana menciptakan anak bangsa yang cerdas sesuai dengan tujuan Negara Indonesia yang terkutip dalam pembukaan UUD 1945. Kecerdasan anak dapat dilihat dari tingkah laku, hasil belajar dan nantinya terlihat pada kehidupan sehari-hari dan masa depan mereka.

Menciptakan anak-anak didik yang cerdas adalah kewajiban para pendidik dan juga tak terlepas dari bantuan orang tua. Tapi kenyataannya hanya sedikit anak yang memanfaatkan kecerdasannya dalam kehidupan sehari-hari, sebagian dari mereka lebih memilih kemalasan berpikir, sebagian yang lainnya enggan menggunakan kecerdasan yang telah dimiliki, dan sebagian yang lainnya belum mengetahui kecerdasan yang telah dimiliki.

Cerdas merupakan suatu kata yang harus dimiliki anak bangsa Indonesia, tetapi tidak hanya cerdas, tapi diikuti dengan kreativitas. Bayangkan jika sebagian besar anak Indonesia Cerdas dan Kreatif, maka Negara ini akan dipenuhi pewaris Bangsa yang dapat lebih memajukan Indonesia.

Lalu pertanyaannya, Bagaimana menciptakan anak bangsa yang cerdas dan kreatif?

Jawabannya akan banyak, tergantung dari siapa yang menjawab. Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan belajar dan hasil belajar. Tapi Kreativitas berhubungan dengan seni dan pola pikir. Apakah hanya anak yang mendapat nilai baik yang termasuk cerdas?. Tidak, karena semua anak bisa menjadi cerdas jika kecerdasannya di kembangkan dengan baik dengan cara yang baik.

Anak yang cerdas matematika belum tentu cerdas dalam hubungan antar teman, anak yang cerdas dalam kesenian tari atau drama mungkin tak menyukai penelitian tentang alam. Anak yang cerdas menulis cerita mungkin sulit menulis dengan tangan secara rapi. Anak yang suka bermain sepak bola belum tentu bisa menari. Namun terdapat banyak anak yang menguasai dua atau bahkan lebih kecerdasan (multikecerdasan).

Untuk mengembangkan kecerdasan anak dalam dunia pendidikan, maka para pendidik diharuskan mengetahui kemampuan kecerdasan anak didiknya yang setiap individu mungkin berbeda kemampuan kecerdasaannya. Menurut Howard Gardner, ada 8 kecerdasan yang mungkin menonjol dimiliki seorang anak, yaitu : Linguistik (kata), logis matematis (angka), visual spasial (gambar), kinestetik-jasmani (tubuh), musical (musik), antarpribadi (orang), intrapribadi (diri), dan naturalis (alam).

Setiap anak mempunyai kecerdasan menonjol yang berbeda, sehingga setiap pendidik harus mampu mengembangkan kecerdasan anak didiknya dengan baik. Perbedaan inilah yang membuat para pendidik kebingungan dalam menerapkan metode pembelajaran yang harus diajarkan. Ketika menerapkan pembelajaran visual maka anak yang kecerdasan visualnya tidak menonjol, kurang dapat menguasai pembelajaran. Pada saat pembelajaran menggunakan metode permainan, maka anak kinestetik akan lebih tertarik, sedangkan anak logis matematika akan merasa bosan.

Dikarenakan anak didik di suatu kelas sangat majemuk dalam kecerdasannya maka pendidik dituntut menggunakan metode yang dapat mengembangkan berbagai kecerdasan anak didik. Misalkan dengan memberikan tugas kepada siswa, dengan pemecahan masalahnya dijawab dengan berbagai cara sesuai dengan cara mereka sendiri menggunakan kecerdasan yang mereka miliki.

Bagaimana caranya menghafal rumus luas segiempat pada pelajaran matematika di kelas VII MTs/SMP. Seorang guru matematika yang ingin mengembangkan kecerdasan anak didiknya, tidak perlu memaksakan diri mengajar dengan cara ceramah, ekspositori atau yang lainnya. Guru harus mampu membiarkan anak menghafal rumus luas segiempat dengan gaya kecerdasannya sendiri.

Seorang anak naturalis akan menghafal dengan cara mengaitkan dengan alam. Alam dikaitkan dengan bentuk persegi, persegi panjang, belah ketupat, layang-layang, trapesium dan jajargenjang. Lalu menghafalkan rumus luasnya dengan terjun langsung ke dunia alam realistiknya.

Anak intrapribadi akan menuliskannya dalam selembar kertas dan menghafalnya dengan caranya tersendiri. Anak akan menghafal dengan cara tersendiri berbeda dengan cara umum yang biasa digunakan.

Anak yang memiliki kecerdasan antarpribadi memilih cara menghafal bersama dengan teman-teman yang lain. Anak akan menghafal jika bertanya bahkan belajar bermain bersama teman-temannya.

Anak musikal tentunya memilih menghafal dengan membuat lagu dari rumus luas segiempat, dan menyanyikannya sehingga dengan mudah menghafalkan.

Anak dengan kecerdasan kinestetik jasmani akan lebih menyukai gaya menghafal dengan gerak tubuhnya. Anak akan membuat suatu permainan tentang rumus luas segiempat, anak akan membuat bentuk segiempat, lalu setiap bentuk segiempat yang ia pilih, maka akan disebutkan rumus luasnya.

Anak visual spasial lebih menyukai belajar dengan cara menggambar dan mengimajinasikan. Anak dengan kecerdasan ini akan menggambar bentuk segiempat dengan gambar dan warna yang menarik, lalu menuliskan rumus luas segiempat dengan lucu dan indah agar mudah anak pahami dan ingat.

Anak logis matematis memilih belajar dengan caranya tersendiri, dengan menemukan darimana rumus tersebut tercipta dari suatu gambar segiempat atau menemukan cara penurunan rumus dengan mengaitkan dengan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimilikinya sebelumnya. Secara logis dan perhitungan matematik maka anak akan menghafal bahkan memahami rumus luas segiempat.

Dan terakhir anak linguistik, anak linguistik akan mencoba menghafal dengan membuat rumus luas segiempat didalam bait-bait puisi atau rumus luas segiempat akan dikaitkan dengan cerita singkat yang akan dibuatnya sehingga anak akan dengan mudah menghafalnya.

Dari uraian diatas, metode belajar tidak lagi dipilihkan oleh guru tapi anak didiklah yang memilih untuk mempelajarinya berdasarkan kecerdasan dominan yang anak miliki. Guru sebenarnya telah menerapkan berbagai metode dalam satu materi pembelajaran. Walau tidak semua materi harus diterapkan sesuai dengan kecerdasan anak. Setidaknya di dalam dunia pendidikan, telah dikembangkan kecerdasan dan kreativitas anak untuk bekal kehidupan sehari-hari dan masa depan.

Pendidikan yang menciptakan anak yang cerdas dan kreatif bukan hanya dikembangkan oleh guru disekolah formal, tapi juga oleh guru nonformal dan yang terpenting oleh orang tua. Tidaklah adil rasanya jika orang tua hanya menuntut anak berhasil dalam pendidikannya tanpa ikut serta mendidik dan mengajarinya dirumah walau hanya sekedar memberikan motivasi.

Kemampuan seorang anak dalam menerima pembelajaran berbeda-beda. Sebagai orang tua tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak kita. Oleh karena itu, sebaiknya anak belajar dan menjadi cerdas sesuai dengan bakat dan kemampuannya sendiri. Sehingga ia melakukan segala sesuatu dalam hidupnya dengan sepenuh hati agar nantinya dapat berguna bagi Bangsa dan Negara.

Dalam mendukung proses belajar mengajar di rumah, orang tua harus mampu menciptakan suasana dan lingkungan rumah yang merangsang anak untuk belajar. Orang tua harus mengenali potensi diri anak dan bakat serta kecerdasan untuk mengoptimalkan kemampuan anak. Sehingga anak mempunyai bekal untuk mengembangkan bakat kemampuan dalam kehidupannya dan masa depannya.

Orang tua harus melatih kemampuan anaknya sehingga menghasilkan anak yang cerdas dan kreatif. Cara mengenali potensi diri dan bakat anak yang terlihat dari bagaimana cara anak menyelesaikan masalah yang terjadi, galilah potensi diri dan bakat lalu kembangkan secara optimal. Dukungan orang tua dapat mengembangkan kemampuan anak. Orang tua dapat membantu anak menemukan cara belajar mereka yang terbaik dan kemudian membantu anak belajar dengan cara mereka sendiri. Orang tua harus memahami dan mengembangkan keunikan setiap anak agar mereka dapat mulai belajar dengan cara paling alami bagi mereka.

Jika kecerdasan dan kreativitas telah terkembang, anak akan mampu mengambil keputusan, anak akan belajar bahwa keputusan yang ia ambil baik atau buruk. Sehingga semakin bertambah umur, anak akan bijak mengambil keputusan bagi dirinya dan orang lain. Hal inilah yang dapat berguna bagi kehidupan sehari-hari dan masa depan mereka. Tentu saja masa depan mereka adalah masa depan bangsa Indonesia. Sebagai pendidik maupun orang tua, mari kita dukung pengembangan pendidikan yang menciptakan anak cerdas kreatif.


Dibaca : 1 Pengunjung

Artikel Lainnya

Apycom jQuery Menus